Rabu, 26 September 2012


LANDASAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

“TEKNOLOGI PENDIDIKAN”

Mei Susilawati              (210611053)

Dosen Pengampu :
Kurnia Hidayati
PG. B
JURUSAN TARBIYAH
PROGAM  STUDY  PENDIDIKAN  GURU  MADRASAH  IBTIDA’IYAH
SEKOLAH  TINGGI  AGAMA  ISLAM  NEGERI  (STAIN) PONOROGO
2012
BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan teknologis memandang dunia sebagai suatu materi yang terkait oleh hukum-hukum sebab-akibat.Setiap kemungkinan adanya kekuatan “spiritual” yang tidak bisa dibuktikan tidak perlu dipertimbangkan ,tidak perlu dipikirkan atau dianalisis.Segala kenyataan bersifat kuantitatif ,ditentukan oleh lingkungan melalui pengetahuan ilmiah.
            Manusia dalam anggapan pendidikan teknologis dipandang sebagai makhluk yang berperilaku lebih kompleks dibandingkan dengan makhluk lainnya.Manusia hidupnya diliputi oleh berbagai pemikiran ilmiah dari keinginan serta tanggung jawabnya bisa terbebas dari tindakan serta akibatnya.Segala macam perilakunya ditentukan ,diarahkan oleh lingkungannya.Pengetahuan dianggap sebagai informasi atau ketrampilan yang bersifat perilaku ,yang bagi setiap individu telah diprogram melalui kondisi penguatan.Dengan demikian ,maka sepanjang hidupnya manusia ditentukan oleh lingkungan ,dikondisikan oleh lingkungan ,dimodifikasi oleh lingkungan.
            Pendidikan adalah modifikasi dari perilaku yang dicapai melalui aplikasi kondisi yang diperkuat ,melalui peralatan teknologi.Isi pelajaran dan metodologi pengajaran ditetapkan dengan dukungan teknologi.Bantuan-bantuan teknologis kepada manusia ,memungkinkan manusia memahami tumbuhnya masyarakat teknologis yang sangat kompleks.Teknologi dipandang sebagai suatu alat atau sarana yang bebas nilai ,bisa dipakai untuk kesejahteraan ,atau bisa sebaliknya juga dipergunakan untuk kebinasaan.
            Pendidikan lebih mengutamakan penampilan perilaku lahiriah atau eksternal ,dengan penerapan praktis hasil penemuan-penemuan ilmiah yang secara karakteristik menuju ke arah komputerisasi program pengajaran yang ideal ,sesuai dengan prinsip-prinsip cybernetics.Dengan demikian model pendidikan teknologis akan lebih efisien ketimbang model pendidikan guru-siswa yang klasikal.Kurikulum model teknologis memandang pendidikan sebagian besar sebagai penyampai informasi ketimbang sebagai pewaris kebudayaan pada masa lampau.
            Model pendidikan teknologis lebih menitikberatkan kemampuan siswa secara individual dimana materi pelajaran disusun ke tingkat kesiapan sehingga siswa mampu mempertunjukkan perilaku tertentu yang diharapkan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Landasan Filosofis
            Konsep model pendidikan teknologis secara filosofis mirip dengan model pendidikan klasikal ,yaitu bertumpu pada asumsi bahwa model pendidikan hendaknya merupakan suatu bentuk atau contoh utama dari masyarakat yang lebih luas sebagai hasil karya pendidikan.[1]
            Falsafah adalah pengetahuan dan pemikiran tentang kebenaran dan tentang arti keberadaan sesuatu. Dengan kata lain falsafah adalah kegiatan pemikiran yang mendalam dan menyeluruh ,serta wujud hasil pemikiran tersebut mengenai kesemestaan sesuatu.
Teknologi pendidikan telah berkembang sebagai suatu disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Perkembangan tersebut dilandasi oleh serangkaian kaidah atau dasar yang dijadikan patokan pembenaran. Secara falsafi ,dasar keilmuan meliputi : ontologi atau rumusan tentang obyek formal atau pokok telaah yang merupakan gejala pengamatan yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain ; epistemologi yaitu usaha atau prinsip intelektual untuk memperoleh kebenaran dalam pokok telaah yang ditentukan ; dan aksiologi atau nilai-nilai yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan ,yang mempersoalkan nilai moral atau etika dan nilai seni dan keindahan atau estetika.[2]
Manfaat dari model kurikulum teknologis pendidikan adalah :
·         Materi pelajaran dapat disajikan kepada siswa dalam berbagai bentuk multimedia.
·         Para siswa menerima pelajaran seperti pada model pendidikan klasikal ,tetapi para siswa lebih yakin dalam menangkap pelajarannya karena penyajian pelajaran lebih hidup ,lebih realistis ,serta lebih impresif.
·         Para siswa menyerap sejumlah besar pola perilaku dan materi pelajaran yang kompleks secara efisien karena keterampilan baru yang diperolehnya akan segera berfaedah bagi dirinya dalam masyarakat yang lebih luas.[3]

       I.            Ontologi
Obyek formal teknologi pendidikan adalah belajar pada manusia. Belajar sendiri dapat diartikan sebagai perubahan pada diri seseorang atau suatu lembaga yang relatif menetap dan bekembang dalam pengetahuan ,sikap dan keterampilan ,yang disebabkan karena pemikiran dan pengalaman. Belajar terjadi dimana saja ,kapan saja ,apa saja ,dari apa atau siapa saja ,dan dengan cara bagaimana saja.
      Setiap orang mempunyai hak untuk belajar. Belajar selain dapat diperoleh dari lembaga khusus seperti sekolah ,lembaga kursus ,juga dapat diperoleh di lingkungan sekitar misalnya di keluarga ,masyarakat ,di tempat ibadah ,maupun di lingkungan kerja. Disinilah letak peran penting atau perlu adanya disiplin ilmu teknologi pendidikan yang berperan dalam mengidentifikasi ,merancang ,mengembangkan ,memanfaatkan ,dan mengevaluasi sumber-sumber yang relevan dan tepat untuk kondisi pembelajaran tertentu. Perlu adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap orang dan organisasi.
      Artinya ,pemanfaatan berbagai sumber memerlukan suatu pendekatan yang terencana ,sistematis dan sistemik. Teknologi pendidikan ,memperdalam hal ini dan mengembangkan berbagai bentuk penerapannya. Jadi ,pendekatan isomorfis yaitu menggabungkan hal-hal yang sesuai dari berbagai kajian bidang kedalam bentuk suatu kebulatan tersendiri untuk memecahkan masalah belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber tersebut. Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber untuk belajar secara efektif efisien ,dan selaras.
    II.            Epistemologi
Landasan epistemologi menelaah bagaimana suatu ilmu pengetahuan diperoleh. Pertama dilakukan adalah menelaah secara simultan keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya. Kemudian ,unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks yang sistemik ,yaitu dirancang ,dikembangkan ,dinilai ,dan dikelola sebagai suatu kesatuan untuk memecahkan masalah.
      Cara memperoleh ilmu pengetahuan dalam teknologi pendidikan menurut Miarso :
·         Isomerik ,penggabungan berbagai disiplin menjadi kebulatan tersendiri
·         Sistemik ,berurutan ,terencana dan terarah
·         Sinergistik ,berdaya lipat atau nilai tambah
·         Sistemik ,menyeluruh atau komprehensif
·         Inovatif ,sesuatu yang baru dan belum ada sebelumnya
·         Integratif ,terjalin dalam suatu sistem atau struktur dan tidak terpisahkan

 III.            Aksiologi
Azas manfaat atau aksiologi dari teknologi pendidikan dapat dinyatakan dengan kutipan pendapat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef dalam Lokakarya Nasional Teknologi Pendidikan di Yogyakarta pada tahun 1982 sebagai berikut :
“Teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus menerus karena adanya kebutuhan real yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya”, yaitu :
·         Tekad mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar.
·         Keharusan meningkatkan mutu pendidikan berupa ,antara lain penyempurnaan kurikulum ,penyediaan berbagai sarana pendidikan ,dan peningkatan kemampuan tenaga pengajar lewat berbagai bentuk pendidikan serta latihan.
·         Penyempurnaan sistem pendidikan dengan penelitian dan pengembangan sesuai dengan tantangan jaman dan kebutuhan pembangunan.
·         Peningkatan partisipasi masyarakat dengan pengembangan dan pemanfaatan berbagai wadah dan sumber pendidikan.
·         Penyempurnaan pelaksanaan interaksi antara pendidikan dan pembangunan di mana manusia dijadikan pusat perhatian pendidikan.
Pernyataan kebijakan tersebut telah terwujudkan ,baik sebagai konsep maupun sebagai bentuk atau pola pelembagaan pendidikan. Ke lima konsep tersebut adalah :
·         Pembelajaran yang berfokus pada peserta didik
·         Sumber belajar yang beraneka
·         Pendekatan dari bawah dalam mengelola kegiatan belajar dan implikasinya dalam satuan pendidikan
·         Sistem pendidikan terbuka dan multi makna
·         Pendidikan jarak jauh
Pembenaran ilmiah dilakukan dengan melalui tiga kategori pendekatan yang berakar pada filsafat ilmu. Ketiga pendekatan itu adalah pengembangan ,penelitian ,dan penilaian yang diperlukan untuk menghasilkan teori ,model ,sistem ,pembuktian ,program aksi ,dan kebijakan.
Perlu disadari bahwa teknologi pendidikan adalah mempermudah manusia dalam memperingan usahanya ,meningkatkan hasilnya ,dan menghemat tenaga serta sumber daya yang ada.Jadi teknologi pada hakekatnya adalah tidak bebas nilai ,karena terkandung adanya aturan etik dan estetika dalam pencipta dan penggunaannya.
Berikut adalah beberapa kegunaan potensial teknologi pendidikan :
·         Meningkatkan produktivitas pendidikan
1)      Memperlaju penahapan belajar
2)      Membantu guru menggunakan waktu secara lebih baik
3)      Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi
·         Memungkinkan pendidikan yang lebih individual
1)      Mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional
2)      Memberikan kesempatan anak berkembang sesuai kemampuannnya
·         Memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah
1)      Perencanaan program pembelajaran yang lebih sistematis
2)      Pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang perilaku
·         Lebih memantapkan pengajaran
1)      Meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi
2)      Penyajian informasi dan data secara lebih konkret
·         Memungkinkan belajar secara lebih akrab
1)      Mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah
2)      Memberikan pengetahuan tangan pertama
·         Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata
1)      Pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas
2)      Penyajian informasi menembus batas geografi[4]

B.     Landasan Sosiologis
Masyarakat teknologis telah menggantikan pikiran manusia dengan pikiran mekanis komputer ,dengan kecepatan ,ketepatan ,serta kemampuan yang memungkinkan memecahkan masalah-masalah teknis dan organisasi yang amat kompleks. Manusia teknologis telah memiliki kekuatan meniru alam ,bahkan mampu menciptakan kembali beberapa lingkungan alam ,termasuk kehidupan itu sendiri.
      Diterapkannya teknologi di dalam pendidikan mula-mula terjadi pada tahun 1940 sehubungan dengan timbulnya kebutuhan militer pada masa peperangan. Namun ,pesatnya penggunaan teknologi di dalam pendidikan pada tahun 1950-an sesungguhnya merupakan akibat munculnya dua faktor yaitu : pertama-tama ,timbulnya kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan sebagai cara untuk memperbaiki mutu kehidupan ; kedua ,terjadinya ledakan penduduk usia sekolah.
Tantangan tersebut memperoleh jawaban dari dunia perekonomian dengan menciptakan berbagai perangkat keras sebagai bantuan teknologis yang dirancang untuk tujuan pengajaran yang lebih efektif serta ekonomis. Dalam proses tersebut peranan komunikasi sangat penting ,sebab hakikat teknologi pengajaran adalah upaya guru mempengaruhi siswa agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Oleh sebab itu ,landasan sosial teknologi pengajaran ada pada komunikasi insani.
      Berkomunikasi merupakan kegiatan manusia ,sesuai dengan nalurinya yang selalu ingin berhubungan satu sama lain ,saling berinteraksi sesamanya sesungguhnya merupakan naluri manusia yang ingin hidup berkelompok atau bermasyarakat. Dengan adanya naluri tersebut ,maka komunikasi dapat dikatakan merupakan bagian hakiki dari kehidupannya yang senantiasa hidup bermasyarakat. Dengan kata lain ,manusia akan kehilangan hakikatnya sebagai manusia bila ia tidak melakukan kegiatan komunikasi dengan sesamanya.
      Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin “Communicare” yang artinya “memberitahukan” ; ”berpartisipasi” ,atau “menjadi milik bersama”. Komunikasi mengandung makna menyebarkan informasi ,berita ,pesan ,pengetahuan ,nilai-nilai dengan maksud untuk menggugah partisipasi agar hal-hal yang diberitahukan menjadi milik bersama antara penyampai pesan sebagai komunikator dan penerima pesan sebagai komunikan.
      Komunikasi dipandang sebagai proses yaitu suatu proses pengoperan dan penerimaan lambang-lambang yang mengandung makna. Dengan demikian ,proses belajar mengajar dilihat dari sudut pandang komunikasi tidak lain adalah proses penyampaian pesan ,gagasan .fakta ,makna ,konsep ,dan data yang sengaja dirancang sehingga dapat diterima oleh penerima pesan atau komunikan. Guru sebagai komunikator menyampaikan pelajaran sebagai pesan kepada siswa-siswa sebagai komunikan. Selama komunikasi berjalan ,terjadilah proses psikologis di mana terjadi kegiatan saling mempengaruhi di antara komunikator dan komunikan.Ini disebut interaksi.
      Wilbur Schramm menjabarkan pengertian umum komunikasi ke dalam tiga kategori pokok ,yaitu:
1)      Encoder ,yaitu komunikator ,guru yang mempunyai informasi tertentu dan benar ,mampu mengirimkan informasi tersebut secara tepat pada kecepatan optimal ,dan sampai kepada penerima informasi ,yaitu para siswanya. Makna encoder adalah penyandi karena informasi atau pesan yang disajikan itu di dalam bentuk sandi atau code.
2)      Sign/signal ,yaitu pesan ,berita ,atau pernyataan tertentu yang ditujukan kepada dan diterima oleh seseorang atau kelompok orang penerima.
3)      Decoder ,yaitu komunikan yang dalam konteks pendidikan adalah siswa yang menerima pesan tertentu ,mampu memahami isi pesan yang diterimanya. Makna decoder adalah pemecah sandi ,sebab pesan yang disajikan oleh guru di dalam bentuk sandi atau lambang harus dapat dipecahkan ,dipahami ,dihayati ,disimak dan dimengerti betul makna isinya.
Komunikasi sebagai proses dapat dibedakan menjadi dua macam ,yaitu proses primer dan proses sekunder. Proses primer adalah proses komunikasi langsung yaitu proses komunikasi yang berlangsung tanpa media massa yang dapat melipat gandakan jumlah penerima pesan. Di dalam proses primer komunikasi dapat berbentuk bahasa ,gerakan-gerakan yang mempunyai makna khusus ,dan aba-aba. Dalam proses sekunder ,komunikasi berlangsung dengan bantuan mekanisme yang dapat melipat gandakan jumlah penerima pesan ,atau ditujukan guna mengatasi berbagai macam hambatan fisik yang akan merintangi berlangsungnya proses komunikasi primer.
       Di samping itu ada komunikasi langsung dan komunikasi tak langsung. Komunikasi langsung adalah komunikasi tanpa mempergunakan media ,sedangkan komunikasi tak langsung adalah komunikasi yang mempergunakan media sebagai alat perantara. Komunikasi langsung tidak sama dengan komunikasi tatap muka. Komunikasi tatap muka diartikan sebagai proses komunikasi dalam satu kelompok yang terikat secara psikologis ,dan mengadakan interaksi dan proses pengaruh mempengaruhi satu sama lain secara intens.
       Bentuk-bentuk komunikasi
Komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal memang tidak sebanyak komunikasi verbal dipergunakan di dalam kehidupan ,namun perannya sangat penting ,sebab kejelasan makna yang disampaikan dengan komunikasi verbal seringkali diperoleh melalui penggunaan komunikasi nonverbal. Dengan kata lain ,komunikasi verbal akan lebih efektif dan efisien pemakainnya bila disertai dengan penggunaan komunikasi nonverbal.
Jenis-jenis komunikasi nonverbal :
·         Parabahasa. Peranan intonasi sangat penting dalam pengajaran ,terutama dalam penyampaian materi dengan metode ceramah.
·         Bahasa tanda ,meliputi semua bentuk kodifikasi yang dapat menggantikan pemakaian bilangan ,tanda-tanda baca ,dan kata-kata. Bahasa tanda sering kali dipergunakan dalam kegiatan olahraga oleh para wasit atau guru olah raga.
·         Bahasa perbuatan ,meliputi semua bentuk isyarat ,ekspresi wajah ,dan gerakan-gerakan yang dipakai untuk menggantikan kata-kata.
·         Bahasa objek ,yaitu penampilan benda-benda tertentu yang mengandung makna.
·         Komunikasi taktil ,yaitu komunikasi melalui rabaan ,elusan atau pegangan. Bentuk komunikasi ini adalah paling awal dan elementer bagi organisme manusia ,dan amat penting dalam kehidupan manusia pada masa kanak-kanak ,bahkan sewaktu masa bayi ketika kasih sayang ditujukan oleh orang tua melalui rabaan ,usapan atau elusan. Komunikasi taktil mengekspresikan pernyataan rasa sayang ,penerimaan ,pemberian ,dorongan ,membangkitkan rasa percaya diri pada diri anak. Bentuk komunikasi ini sangat penting sekali diketahui oleh guru dalam membimbing para siswanya sehubungan dengan kegiatan pengajaran yang efektif.
·         Ruangan dan waktu ,yaitu bentuk komunikasi nonverbal yang berhubungan erat dengan kebudayaan suatu bangsa.
Tujuan komunikasi
       Tujuan pokok berkomunikasi adalah mengubah hubungan asli antara diri kita dengan lingkungan di tempat kita berada. Dengan demikian ,tujuan komunikasi yang utama adalah mempengaruhi orang lain atau mempengaruhi lingkungan fisik kita dan menjadikan diri kita sebagai agen yang dapat mempengaruhi ,agen yang bisa menentukan terhadap lingkungan kita untuk dijadikan sesuatu yang kita kehendaki.
       Beberapa prinsip di dalam komunikasi
Beberapa prinsip yang memegang peran penting untuk menjadikan proses komunikasi lebih efektif sehingga tujuan komunikasi bisa dicapai ,yaitu :
·         Makna di dalam proses komunikasi. Makna pesan dalam komunikasi tidak berada di dalam pesan ,tetapi pada orang. Komunikasi bukan berarti penyerahan makna dari sumber kepada penerima karena makna itu sendiri tidak bisa ditransmisikan;hanya pesan yang dapat ditransmisikan.
·         Gangguan di dalam komunikasi merupakan salah satu unsur yang dapat menghambat keefektifan komunikasi. Gangguan bisa berasal dari sumber komunikasi sendiri ,dapat juga berasal dari pesan yang disampaikan ,atau berasal dari saluran yang dipergunakan ,juga bisa berasal dari penerima pesan komunikasi. Gangguan di dalam proses komunikasi dapat juga datang dari lingkungan tempat berlangsungnya proses komunikasi.
·         Peranan empati dalam proses komunikasi. Menurut Berlo ,sumber dan penerima pesan masing-masing memiliki keterampilan ,sikap dan pengetahuan tertentu yang berguna untuk melaksanakan proses komunikasi tertentu. Hal ini akan membawa pengaruh kepada kedua belah pihak dalam mereaksi pesan-pesan tertentu. Empati mempunyai peranan penting dalam keberhasilan komunikasi pendidikan ,sebab pesan yang disampaikan dapat diterima sebaik-baiknya karena sesuai dengan pengalaman dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh komunikan.
·         Konsep diri dalam proses komunikasi. Kumpulan kepercayaan seseorang terhadap identitas dirinya membentuk apa yang disebut sebagai “konsep diri”. Konsep diri merupakan pengamatan atas diri sendiri yang berhubungan dengan aspek fisik ,sosial dan psikologis yang diperoleh dari pengalaman dan interaksi dengan orang lain. Dengan demikian ,konsep diri berkembang sebagai hasil reaksi terhadap bagaimana orang lain bersikap kepada kita ,bagaimana orang lain mereaksi kita ,dan apa yang diharapkan orang lain dari diri kita. Komunikasi sangat dipengaruhi oleh konsep diri dalam memilih pesan-pesan yang akan disampaikan kepada penerima.
·         Umpan balik dalam proses komunikasi. Komunikasi tidak cukup hanya ditandai oleh adanya kebergantungan secara fisik antara sumber dan penerima pesan ,tetapi harus ditandai oleh adanya kebergantungan interaktif di antara keduanya.
Teknologi pengajaran sebagai upaya untuk membantu para siswa dalam mencapai tujuan pendidikan ,banyak dipengaruhi oleh prinsip dan bentuk komunikasi ,sebab dalam teknologi pengajaran terkandung upaya bagaimana guru membina ,mengarahkan ,dan mempengaruhi para siswa dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran melalui pengelolaan informasi ,bukan melalui pengajaran dengan semua perangkatnya.[5]
C.    Landasan Psikologis
Dengan metode mengajar yang ilmiah ,diharapkan proses belajar mengajar lebih terjamin keberhasilannya. Tujuan pendidikan ,termasuk pengajaran ,pada hakikatnya adalah diperolehnya perubahan tingkah laku individu. Perubahan tersebut merupakan akibat dari perbuatan belajar ,bukan sebagai akibat kematangan. Ciri tingkah laku yang diperoleh dari hasil belajar adalah terbentuknya tingkah laku baru berupa kemampuan aktual dan potensial ; kemampuan baru yang berlaku dalam dalam waktu yang relatif lama ; dan kemampuan baru tersebut diperoleh melalui usaha.
Teknologi pendidikan memberikan pendekatan yang sistematis dan kritis tentang proses belajar mengajar. Dalam pengembangan teknologi pendidikan diperlukan teori psikologi (psikologi pendidikan dan psikologi belajar). Karena subjek dari teknologi pendidikan adalah manusia (peserta didik). Berikut aplikasi teori psikologi pendidikan dan psikologi belajar dalam teknologi pendidikan ,yaitu : Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar ,serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar ,yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan teknologi pendidikan.
Pengembangan teknologi pendidikan senantiasa berhubungan dengan program pendidikan untuk kepentingan peserta didik ,maka landasan psikologi mutlak harus dijadikan dasar dalam proses pengembangan teknologi pendidikan. Guru sebagai pendidik harus mengupayakan cara / metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses pembelajaran guna mendapatkan hasil yang optimal ,dalam hal ini proses pembelajaran mutlak diperlukan pemikiran yang mendalam dengan memperhatikan psikologi belajar.
Selain itu aplikasi psikologi pendidikan dalam teknologi pendidikan adalah yang menyangkut dengan aspek-aspek perilaku dalam ruang lingkup belajar mengajar. Secara psikologis ,manusia adalah makhluk individual namun juga sebagai makhluk sosial dengan kata lain manusia sebagai makhluk yang unik. Maka dari itu kajian teori dalam psikologi dalam teknologi pendidikan seharusnya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan ,kemampuan ,sikap ,motivasi ,perasaan ,serta karakteristik-karakteristik individu lainnya.
Tiga dalil utama yang diajukan oleh Thorndike tentang teori perkembangannya :
a.       Dalil latihan dan ulangan : makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus tertentu ,makin besar kemungkinan ditanamkan.
b.      Dalil akibat : menyatakan prinsip hubungan senang tidak senang ,respons akan diperkuat bilamana diikuti oleh rasa senang ,dan akan diperlemah bila diikuti rasa tidak senang.
c.       Dalil kesiapan : karena perkembangan sistem syaraf maka unit perilaku tertentu akan lebih mudah dilakukan ,dibandingkan dengan unit perilaku yang lain.
Selanjutnya menurut Saettler konstribusi Thorndike dalam teknologi pembelajaran adalah dengan rumusannya tentang prinsip-prinsip : 1. Aktivitas diri ,2. Minat/motivasi ,3. Kesiapan mental ,4. Individualisasi ,5. Sosialisasi.
Menurut Snelbecker dalam Miarso perkembangan beberapa posisi psikologi terhadap pendidikan yang lebih sistematis dan ilmiah diberi nama “teori pembelajaran”. Dapat diambil kesimpulan bahwa teknologi pembelajaran merupakan pendekatan sistematis dan ilmiah dari psikologi terhadap masalah pendidikan. Selanjutnya ,Snelbecker mengemukakan kegunaan teori atau teknologi :
a)      Dapat mengusahakan perbaikan praktik pendidikan seperti yang berlangsung
b)      Mampu memprediksi efektif tidaknya suatu inovasi ,dan karena itu memberikan bahan pertimbangan kepada para pengelola pendidikan untuk menentukan kebijakan
c)      Mengarahkan penelitian untuk masa-masa mendatang secara lebih sistematis.
Berikut adalah teori-teori belajar :
1.      Behaviorisme (Tingkah laku/perilaku)
Behaviorisme didasarkan pada perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Manusia adalah organisme yang pasif ,yang sepenuhnya dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dari lingkungan.
Dalam aliran ini tingkah laku dalam belajar akan berubah kalau ada stimulus dan respon. Stimulus dapat berupa perilaku yang diberikan pada siswa ,sedangkan respons berupa perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa. Menurut Baharudin dan Wahyuni bahwa aliran behavioristik memandang belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus dan respons.
2.      Kognitivisme (Akal Pikiran/Otak)
Dasar pemikiran dari teori pendidikan kognitivisme adalah dasarnya nasional. Teori ini memiliki asumsi filosofis yaitu (pengetahuan seseorang diperoleh berdasarkan pemikiran). Menururt aliran ini ,belajar disebabkan oleh kemampuan kita dalam menafsirkan peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam lingkungan. Teori kognitivisme berusaha menjelaskan dalam belajar bagaimana orang-orang berpikir. Di dalam aliran kognitivisme lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri ,karena menurut teori ini bahwa belajar melibatkan proses berpikir yang kompleks. Jadi ,menurut teori kognitivisme pendidikan dihasilkan dari proses berpikir.
3.      Konstruktivisme
Menurut teori konstruktivisme yang menjadi dasar bahwa siswa memperoleh pengetahuan adalah karena keaktifan siswa itu sendiri. Konsep pembelajaran menurut teori ini adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru dan pengetahuan baru berdasarkan data. Oleh karena itu ,proses pembelajaran harus dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong siswa mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna. Agar siswa memiliki kebiasaan berpikir maka dibutuhkan kebebasan dan sikap belajar.
Hal terpenting dalm pembelajaran adalah siswa perlu menguasai bagaimana caranya belajar. Dengan itu ia bisa menjadi pembelajar mandiri dan menemukan sendiri pengetahuan-pengetahuan yang ia butuhkan dalam kehidupan.
4.      Humanistik (Bakat)
Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu ,proses belajar dapat dianggap berhasil apabila si pembelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain ,si pembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensia-potensi yang ada dalam diri mereka.
Menurut aliran humanistik para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang untuk menjadi lebih baik dan belajar. Pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencaridan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk mengembangkan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri ,menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat.
Keterampilan atau kemampuan membangun diri secara positif menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Dalam teori humanistik belajar dianggap berhasil apabila pembelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.[6]





BAB III
PENUTUP

Teknologi pendidikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran tidak bisa melepaskan diri dari kaidah dan hukum-hukum tentang terjadinya perubahan tingkah laku individu (teori belajar).
Teknologi pendidikan diciptakan dan diusahakan berdasarkan teori-teori belajar. Oleh sebab itu ,teori pengajaran ,termasuk teknologi pengajaran ,bersumber dari teori belajar. Teori pengajaran berusaha mencari jawaban atas bagaimana membantu siswa agar siswa berubah tingkah lakunya ,sedangkan teori belajar berusaha mencari jawaban atas mengapa terjadi perubahan tingkah laku individu.


[1] Nana Sudjana,Teknologi Pengajaran,(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007)24-25
[2] Harjadi,Teknologi Pendidikan,(Yogyakarta:STAIN Ponorogo press,2011)39                                                                                                                                                                                                          
[3] Nana Sudjana,Teknologi Pengajaran,(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007)26
[4] Harjadi,Teknologi Pendidikan,(Yogyakarta:STAIN Ponorogo press,2011)40-46
[5] Nana Sudjana,Teknologi Pengajaran,(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007)26-36
[6] Harjadi,Teknologi Pendidikan,(Yogyakarta:STAIN Ponorogo press,2011)36-40

1 komentar:

  1. YouTube - Videodl.cc
    YouTube. YouTube. youtube to mp3 Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo.

    BalasHapus