LANDASAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
“TEKNOLOGI PENDIDIKAN”
Mei Susilawati (210611053)
Dosen Pengampu :
Kurnia Hidayati
PG. B
JURUSAN TARBIYAH
PROGAM STUDY PENDIDIKAN
GURU MADRASAH IBTIDA’IYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM NEGERI (STAIN) PONOROGO
2012
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan teknologis memandang dunia sebagai suatu materi yang
terkait oleh hukum-hukum sebab-akibat.Setiap kemungkinan adanya kekuatan
“spiritual” yang tidak bisa dibuktikan tidak perlu dipertimbangkan ,tidak perlu
dipikirkan atau dianalisis.Segala kenyataan bersifat kuantitatif ,ditentukan
oleh lingkungan melalui pengetahuan ilmiah.
Manusia dalam
anggapan pendidikan teknologis dipandang sebagai makhluk yang berperilaku lebih
kompleks dibandingkan dengan makhluk lainnya.Manusia hidupnya diliputi oleh
berbagai pemikiran ilmiah dari keinginan serta tanggung jawabnya bisa terbebas
dari tindakan serta akibatnya.Segala macam perilakunya ditentukan ,diarahkan oleh
lingkungannya.Pengetahuan dianggap sebagai informasi atau ketrampilan yang
bersifat perilaku ,yang bagi setiap individu telah diprogram melalui kondisi
penguatan.Dengan demikian ,maka sepanjang hidupnya manusia ditentukan oleh
lingkungan ,dikondisikan oleh lingkungan ,dimodifikasi oleh lingkungan.
Pendidikan adalah
modifikasi dari perilaku yang dicapai melalui aplikasi kondisi yang diperkuat
,melalui peralatan teknologi.Isi pelajaran dan metodologi pengajaran ditetapkan
dengan dukungan teknologi.Bantuan-bantuan teknologis kepada manusia
,memungkinkan manusia memahami tumbuhnya masyarakat teknologis yang sangat
kompleks.Teknologi dipandang sebagai suatu alat atau sarana yang bebas nilai
,bisa dipakai untuk kesejahteraan ,atau bisa sebaliknya juga dipergunakan untuk
kebinasaan.
Pendidikan lebih
mengutamakan penampilan perilaku lahiriah atau eksternal ,dengan penerapan
praktis hasil penemuan-penemuan ilmiah yang secara karakteristik menuju ke arah
komputerisasi program pengajaran yang ideal ,sesuai dengan prinsip-prinsip
cybernetics.Dengan demikian model pendidikan teknologis akan lebih efisien
ketimbang model pendidikan guru-siswa yang klasikal.Kurikulum model teknologis
memandang pendidikan sebagian besar sebagai penyampai informasi ketimbang
sebagai pewaris kebudayaan pada masa lampau.
Model pendidikan
teknologis lebih menitikberatkan kemampuan siswa secara individual dimana
materi pelajaran disusun ke tingkat kesiapan sehingga siswa mampu
mempertunjukkan perilaku tertentu yang diharapkan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Landasan Filosofis
Konsep model
pendidikan teknologis secara filosofis mirip dengan model pendidikan klasikal
,yaitu bertumpu pada asumsi bahwa model pendidikan hendaknya merupakan suatu
bentuk atau contoh utama dari masyarakat yang lebih luas sebagai hasil karya
pendidikan.[1]
Falsafah adalah
pengetahuan dan pemikiran tentang kebenaran dan tentang arti keberadaan
sesuatu. Dengan kata lain falsafah adalah kegiatan pemikiran yang mendalam dan
menyeluruh ,serta wujud hasil pemikiran tersebut mengenai kesemestaan sesuatu.
Teknologi pendidikan telah berkembang sebagai suatu disiplin
keilmuan yang berdiri sendiri. Perkembangan tersebut dilandasi oleh serangkaian
kaidah atau dasar yang dijadikan patokan pembenaran. Secara falsafi ,dasar
keilmuan meliputi : ontologi atau rumusan tentang obyek formal atau pokok
telaah yang merupakan gejala pengamatan yang tidak tergarap oleh bidang telaah
lain ; epistemologi yaitu usaha atau prinsip intelektual untuk memperoleh
kebenaran dalam pokok telaah yang ditentukan ; dan aksiologi atau nilai-nilai
yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan ,yang mempersoalkan
nilai moral atau etika dan nilai seni dan keindahan atau estetika.[2]
Manfaat dari model kurikulum teknologis pendidikan adalah :
·
Materi
pelajaran dapat disajikan kepada siswa dalam berbagai bentuk multimedia.
·
Para
siswa menerima pelajaran seperti pada model pendidikan klasikal ,tetapi para
siswa lebih yakin dalam menangkap pelajarannya karena penyajian pelajaran lebih
hidup ,lebih realistis ,serta lebih impresif.
·
Para
siswa menyerap sejumlah besar pola perilaku dan materi pelajaran yang kompleks
secara efisien karena keterampilan baru yang diperolehnya akan segera berfaedah
bagi dirinya dalam masyarakat yang lebih luas.[3]
I.
Ontologi
Obyek formal teknologi
pendidikan adalah belajar pada manusia. Belajar sendiri dapat diartikan sebagai
perubahan pada diri seseorang atau suatu lembaga yang relatif menetap dan
bekembang dalam pengetahuan ,sikap dan keterampilan ,yang disebabkan karena
pemikiran dan pengalaman. Belajar terjadi dimana saja ,kapan saja ,apa saja
,dari apa atau siapa saja ,dan dengan cara bagaimana saja.
Setiap orang mempunyai hak untuk belajar. Belajar selain dapat
diperoleh dari lembaga khusus seperti sekolah ,lembaga kursus ,juga dapat
diperoleh di lingkungan sekitar misalnya di keluarga ,masyarakat ,di tempat
ibadah ,maupun di lingkungan kerja. Disinilah letak peran penting atau perlu
adanya disiplin ilmu teknologi pendidikan yang berperan dalam mengidentifikasi
,merancang ,mengembangkan ,memanfaatkan ,dan mengevaluasi sumber-sumber yang
relevan dan tepat untuk kondisi pembelajaran tertentu. Perlu adanya suatu
proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap
sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap orang dan
organisasi.
Artinya ,pemanfaatan
berbagai sumber memerlukan suatu pendekatan yang terencana ,sistematis dan
sistemik. Teknologi pendidikan ,memperdalam hal ini dan mengembangkan berbagai
bentuk penerapannya. Jadi ,pendekatan isomorfis yaitu menggabungkan hal-hal
yang sesuai dari berbagai kajian bidang kedalam bentuk suatu kebulatan tersendiri
untuk memecahkan masalah belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber tersebut. Perlu
adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan
memanfaatkan sumber untuk belajar secara efektif efisien ,dan selaras.
II.
Epistemologi
Landasan
epistemologi menelaah bagaimana suatu ilmu pengetahuan diperoleh. Pertama
dilakukan adalah menelaah secara simultan keseluruhan masalah belajar dan upaya
pemecahannya. Kemudian ,unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam
suatu proses kompleks yang sistemik ,yaitu dirancang ,dikembangkan ,dinilai
,dan dikelola sebagai suatu kesatuan untuk memecahkan masalah.
Cara memperoleh ilmu
pengetahuan dalam teknologi pendidikan menurut Miarso :
·
Isomerik
,penggabungan berbagai disiplin menjadi kebulatan tersendiri
·
Sistemik
,berurutan ,terencana dan terarah
·
Sinergistik
,berdaya lipat atau nilai tambah
·
Sistemik
,menyeluruh atau komprehensif
·
Inovatif
,sesuatu yang baru dan belum ada sebelumnya
·
Integratif
,terjalin dalam suatu sistem atau struktur dan tidak terpisahkan
III.
Aksiologi
Azas manfaat
atau aksiologi dari teknologi pendidikan dapat dinyatakan dengan kutipan
pendapat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef dalam Lokakarya
Nasional Teknologi Pendidikan di Yogyakarta pada tahun 1982 sebagai berikut :
“Teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus menerus
karena adanya kebutuhan real yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya”,
yaitu :
·
Tekad
mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar.
·
Keharusan
meningkatkan mutu pendidikan berupa ,antara lain penyempurnaan kurikulum
,penyediaan berbagai sarana pendidikan ,dan peningkatan kemampuan tenaga
pengajar lewat berbagai bentuk pendidikan serta latihan.
·
Penyempurnaan
sistem pendidikan dengan penelitian dan pengembangan sesuai dengan tantangan
jaman dan kebutuhan pembangunan.
·
Peningkatan
partisipasi masyarakat dengan pengembangan dan pemanfaatan berbagai wadah dan
sumber pendidikan.
·
Penyempurnaan
pelaksanaan interaksi antara pendidikan dan pembangunan di mana manusia dijadikan
pusat perhatian pendidikan.
Pernyataan kebijakan tersebut telah terwujudkan ,baik sebagai
konsep maupun sebagai bentuk atau pola pelembagaan pendidikan. Ke lima konsep
tersebut adalah :
·
Pembelajaran
yang berfokus pada peserta didik
·
Sumber
belajar yang beraneka
·
Pendekatan
dari bawah dalam mengelola kegiatan belajar dan implikasinya dalam satuan
pendidikan
·
Sistem
pendidikan terbuka dan multi makna
·
Pendidikan
jarak jauh
Pembenaran ilmiah dilakukan dengan melalui tiga kategori pendekatan
yang berakar pada filsafat ilmu. Ketiga pendekatan itu adalah pengembangan
,penelitian ,dan penilaian yang diperlukan untuk menghasilkan teori ,model ,sistem
,pembuktian ,program aksi ,dan kebijakan.
Perlu disadari bahwa teknologi pendidikan adalah mempermudah
manusia dalam memperingan usahanya ,meningkatkan hasilnya ,dan menghemat tenaga
serta sumber daya yang ada.Jadi teknologi pada hakekatnya adalah tidak bebas
nilai ,karena terkandung adanya aturan etik dan estetika dalam pencipta dan
penggunaannya.
Berikut adalah beberapa kegunaan potensial teknologi pendidikan :
·
Meningkatkan
produktivitas pendidikan
1)
Memperlaju
penahapan belajar
2)
Membantu
guru menggunakan waktu secara lebih baik
3)
Mengurangi
beban guru dalam menyajikan informasi
·
Memungkinkan
pendidikan yang lebih individual
1)
Mengurangi
kontrol guru yang kaku dan tradisional
2)
Memberikan
kesempatan anak berkembang sesuai kemampuannnya
·
Memberikan
dasar pengajaran yang lebih ilmiah
1)
Perencanaan
program pembelajaran yang lebih sistematis
2)
Pengembangan
bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang perilaku
·
Lebih
memantapkan pengajaran
1)
Meningkatkan
kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi
2)
Penyajian
informasi dan data secara lebih konkret
·
Memungkinkan
belajar secara lebih akrab
1)
Mengurangi
jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah
2)
Memberikan
pengetahuan tangan pertama
·
Memungkinkan
penyajian pendidikan lebih luas dan merata
1)
Pemanfaatan
bersama tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas
2)
Penyajian
informasi menembus batas geografi[4]
B.
Landasan Sosiologis
Masyarakat
teknologis telah menggantikan pikiran manusia dengan pikiran mekanis komputer
,dengan kecepatan ,ketepatan ,serta kemampuan yang memungkinkan memecahkan
masalah-masalah teknis dan organisasi yang amat kompleks. Manusia teknologis
telah memiliki kekuatan meniru alam ,bahkan mampu menciptakan kembali beberapa
lingkungan alam ,termasuk kehidupan itu sendiri.
Diterapkannya teknologi
di dalam pendidikan mula-mula terjadi pada tahun 1940 sehubungan dengan
timbulnya kebutuhan militer pada masa peperangan. Namun ,pesatnya penggunaan
teknologi di dalam pendidikan pada tahun 1950-an sesungguhnya merupakan akibat
munculnya dua faktor yaitu : pertama-tama ,timbulnya kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan
sebagai cara untuk memperbaiki mutu kehidupan ; kedua ,terjadinya ledakan
penduduk usia sekolah.
Tantangan
tersebut memperoleh jawaban dari dunia perekonomian dengan menciptakan berbagai
perangkat keras sebagai bantuan teknologis yang dirancang untuk tujuan
pengajaran yang lebih efektif serta ekonomis. Dalam proses tersebut peranan
komunikasi sangat penting ,sebab hakikat teknologi pengajaran adalah upaya guru
mempengaruhi siswa agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Oleh sebab itu
,landasan sosial teknologi pengajaran ada pada komunikasi insani.
Berkomunikasi merupakan
kegiatan manusia ,sesuai dengan nalurinya yang selalu ingin berhubungan satu
sama lain ,saling berinteraksi sesamanya sesungguhnya merupakan naluri manusia
yang ingin hidup berkelompok atau bermasyarakat. Dengan adanya naluri tersebut
,maka komunikasi dapat dikatakan merupakan bagian hakiki dari kehidupannya yang
senantiasa hidup bermasyarakat. Dengan kata lain ,manusia akan kehilangan
hakikatnya sebagai manusia bila ia tidak melakukan kegiatan komunikasi dengan
sesamanya.
Istilah komunikasi
berasal dari bahasa Latin “Communicare” yang artinya “memberitahukan” ;
”berpartisipasi” ,atau “menjadi milik bersama”. Komunikasi mengandung makna
menyebarkan informasi ,berita ,pesan ,pengetahuan ,nilai-nilai dengan maksud
untuk menggugah partisipasi agar hal-hal yang diberitahukan menjadi milik
bersama antara penyampai pesan sebagai komunikator dan penerima pesan sebagai
komunikan.
Komunikasi dipandang
sebagai proses yaitu suatu proses pengoperan dan penerimaan lambang-lambang
yang mengandung makna. Dengan demikian ,proses belajar mengajar dilihat dari
sudut pandang komunikasi tidak lain adalah proses penyampaian pesan ,gagasan
.fakta ,makna ,konsep ,dan data yang sengaja dirancang sehingga dapat diterima
oleh penerima pesan atau komunikan. Guru sebagai komunikator menyampaikan
pelajaran sebagai pesan kepada siswa-siswa sebagai komunikan. Selama komunikasi
berjalan ,terjadilah proses psikologis di mana terjadi kegiatan saling
mempengaruhi di antara komunikator dan komunikan.Ini disebut interaksi.
Wilbur Schramm
menjabarkan pengertian umum komunikasi ke dalam tiga kategori pokok ,yaitu:
1)
Encoder
,yaitu komunikator ,guru yang mempunyai informasi tertentu dan benar
,mampu mengirimkan informasi tersebut secara tepat pada kecepatan optimal ,dan
sampai kepada penerima informasi ,yaitu para siswanya. Makna encoder adalah
penyandi karena informasi atau pesan yang disajikan itu di dalam bentuk sandi
atau code.
2)
Sign/signal
,yaitu pesan ,berita ,atau pernyataan tertentu yang ditujukan kepada
dan diterima oleh seseorang atau kelompok orang penerima.
3)
Decoder
,yaitu komunikan yang dalam konteks pendidikan adalah siswa yang
menerima pesan tertentu ,mampu memahami isi pesan yang diterimanya. Makna
decoder adalah pemecah sandi ,sebab pesan yang disajikan oleh guru di dalam
bentuk sandi atau lambang harus dapat dipecahkan ,dipahami ,dihayati ,disimak
dan dimengerti betul makna isinya.
Komunikasi sebagai proses dapat dibedakan menjadi dua macam ,yaitu
proses primer dan proses sekunder. Proses primer adalah proses komunikasi
langsung yaitu proses komunikasi yang berlangsung tanpa media massa yang dapat
melipat gandakan jumlah penerima pesan. Di dalam proses primer komunikasi dapat
berbentuk bahasa ,gerakan-gerakan yang mempunyai makna khusus ,dan aba-aba. Dalam
proses sekunder ,komunikasi berlangsung dengan bantuan mekanisme yang dapat
melipat gandakan jumlah penerima pesan ,atau ditujukan guna mengatasi berbagai
macam hambatan fisik yang akan merintangi berlangsungnya proses komunikasi
primer.
Di samping itu ada
komunikasi langsung dan komunikasi tak langsung. Komunikasi langsung adalah
komunikasi tanpa mempergunakan media ,sedangkan komunikasi tak langsung adalah
komunikasi yang mempergunakan media sebagai alat perantara. Komunikasi langsung
tidak sama dengan komunikasi tatap muka. Komunikasi tatap muka diartikan
sebagai proses komunikasi dalam satu kelompok yang terikat secara psikologis
,dan mengadakan interaksi dan proses pengaruh mempengaruhi satu sama lain
secara intens.
Bentuk-bentuk
komunikasi
Komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal
memang tidak sebanyak komunikasi verbal dipergunakan di dalam kehidupan ,namun
perannya sangat penting ,sebab kejelasan makna yang disampaikan dengan
komunikasi verbal seringkali diperoleh melalui penggunaan komunikasi nonverbal.
Dengan kata lain ,komunikasi verbal akan lebih efektif dan efisien pemakainnya
bila disertai dengan penggunaan komunikasi nonverbal.
Jenis-jenis komunikasi nonverbal :
·
Parabahasa.
Peranan intonasi sangat penting dalam pengajaran ,terutama dalam
penyampaian materi dengan metode ceramah.
·
Bahasa
tanda ,meliputi semua bentuk kodifikasi
yang dapat menggantikan pemakaian bilangan ,tanda-tanda baca ,dan kata-kata. Bahasa
tanda sering kali dipergunakan dalam kegiatan olahraga oleh para wasit atau
guru olah raga.
·
Bahasa
perbuatan ,meliputi semua
bentuk isyarat ,ekspresi wajah ,dan gerakan-gerakan yang dipakai untuk
menggantikan kata-kata.
·
Bahasa
objek ,yaitu penampilan benda-benda tertentu
yang mengandung makna.
·
Komunikasi
taktil ,yaitu komunikasi melalui rabaan
,elusan atau pegangan. Bentuk komunikasi ini adalah paling awal dan elementer
bagi organisme manusia ,dan amat penting dalam kehidupan manusia pada masa
kanak-kanak ,bahkan sewaktu masa bayi ketika kasih sayang ditujukan oleh orang
tua melalui rabaan ,usapan atau elusan. Komunikasi taktil mengekspresikan
pernyataan rasa sayang ,penerimaan ,pemberian ,dorongan ,membangkitkan rasa
percaya diri pada diri anak. Bentuk komunikasi ini sangat penting sekali
diketahui oleh guru dalam membimbing para siswanya sehubungan dengan kegiatan
pengajaran yang efektif.
·
Ruangan
dan waktu ,yaitu bentuk
komunikasi nonverbal yang berhubungan erat dengan kebudayaan suatu bangsa.
Tujuan komunikasi
Tujuan pokok
berkomunikasi adalah mengubah hubungan asli antara diri kita dengan lingkungan
di tempat kita berada. Dengan demikian ,tujuan komunikasi yang utama adalah
mempengaruhi orang lain atau mempengaruhi lingkungan fisik kita dan menjadikan
diri kita sebagai agen yang dapat mempengaruhi ,agen yang bisa menentukan
terhadap lingkungan kita untuk dijadikan sesuatu yang kita kehendaki.
Beberapa prinsip di
dalam komunikasi
Beberapa
prinsip yang memegang peran penting untuk menjadikan proses komunikasi lebih
efektif sehingga tujuan komunikasi bisa dicapai ,yaitu :
·
Makna
di dalam proses komunikasi. Makna pesan
dalam komunikasi tidak berada di dalam pesan ,tetapi pada orang. Komunikasi
bukan berarti penyerahan makna dari sumber kepada penerima karena makna itu
sendiri tidak bisa ditransmisikan;hanya pesan yang dapat ditransmisikan.
·
Gangguan di dalam komunikasi merupakan salah satu unsur yang dapat
menghambat keefektifan komunikasi. Gangguan bisa berasal dari sumber komunikasi
sendiri ,dapat juga berasal dari pesan yang disampaikan ,atau berasal dari
saluran yang dipergunakan ,juga bisa berasal dari penerima pesan komunikasi. Gangguan
di dalam proses komunikasi dapat juga datang dari lingkungan tempat
berlangsungnya proses komunikasi.
·
Peranan
empati dalam proses komunikasi. Menurut
Berlo ,sumber dan penerima pesan masing-masing memiliki keterampilan ,sikap dan
pengetahuan tertentu yang berguna untuk melaksanakan proses komunikasi
tertentu. Hal ini akan membawa pengaruh kepada kedua belah pihak dalam mereaksi
pesan-pesan tertentu. Empati mempunyai peranan penting dalam keberhasilan
komunikasi pendidikan ,sebab pesan yang disampaikan dapat diterima
sebaik-baiknya karena sesuai dengan pengalaman dan tidak bertentangan dengan
nilai-nilai yang dianut oleh komunikan.
·
Konsep
diri dalam proses komunikasi. Kumpulan
kepercayaan seseorang terhadap identitas dirinya membentuk apa yang disebut
sebagai “konsep diri”. Konsep diri merupakan pengamatan atas diri sendiri yang
berhubungan dengan aspek fisik ,sosial dan psikologis yang diperoleh dari
pengalaman dan interaksi dengan orang lain. Dengan demikian ,konsep diri
berkembang sebagai hasil reaksi terhadap bagaimana orang lain bersikap kepada
kita ,bagaimana orang lain mereaksi kita ,dan apa yang diharapkan orang lain
dari diri kita. Komunikasi sangat dipengaruhi oleh konsep diri dalam memilih
pesan-pesan yang akan disampaikan kepada penerima.
·
Umpan
balik dalam proses komunikasi. Komunikasi
tidak cukup hanya ditandai oleh adanya kebergantungan secara fisik antara
sumber dan penerima pesan ,tetapi harus ditandai oleh adanya kebergantungan
interaktif di antara keduanya.
Teknologi
pengajaran sebagai upaya untuk membantu para siswa dalam mencapai tujuan
pendidikan ,banyak dipengaruhi oleh prinsip dan bentuk komunikasi ,sebab dalam
teknologi pengajaran terkandung upaya bagaimana guru membina ,mengarahkan ,dan
mempengaruhi para siswa dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran melalui
pengelolaan informasi ,bukan melalui pengajaran dengan semua perangkatnya.[5]
C.
Landasan Psikologis
Dengan metode
mengajar yang ilmiah ,diharapkan proses belajar mengajar lebih terjamin
keberhasilannya. Tujuan pendidikan ,termasuk pengajaran ,pada hakikatnya adalah
diperolehnya perubahan tingkah laku individu. Perubahan tersebut merupakan
akibat dari perbuatan belajar ,bukan sebagai akibat kematangan. Ciri tingkah
laku yang diperoleh dari hasil belajar adalah terbentuknya tingkah laku baru
berupa kemampuan aktual dan potensial ; kemampuan baru yang berlaku dalam dalam
waktu yang relatif lama ; dan kemampuan baru tersebut diperoleh melalui usaha.
Teknologi pendidikan memberikan pendekatan yang sistematis dan
kritis tentang proses belajar mengajar. Dalam pengembangan teknologi pendidikan
diperlukan teori psikologi (psikologi pendidikan dan psikologi belajar). Karena
subjek dari teknologi pendidikan adalah manusia (peserta didik). Berikut
aplikasi teori psikologi pendidikan dan psikologi belajar dalam teknologi
pendidikan ,yaitu : Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang
perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang
hakekat belajar dan teori-teori belajar ,serta berbagai aspek perilaku individu
lainnya dalam belajar ,yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan
sekaligus mendasari pengembangan teknologi pendidikan.
Pengembangan teknologi pendidikan senantiasa berhubungan dengan
program pendidikan untuk kepentingan peserta didik ,maka landasan psikologi mutlak
harus dijadikan dasar dalam proses pengembangan teknologi pendidikan. Guru
sebagai pendidik harus mengupayakan cara / metode yang lebih baik untuk
melaksanakan proses pembelajaran guna mendapatkan hasil yang optimal ,dalam hal
ini proses pembelajaran mutlak diperlukan pemikiran yang mendalam dengan
memperhatikan psikologi belajar.
Selain itu aplikasi psikologi pendidikan dalam teknologi pendidikan
adalah yang menyangkut dengan aspek-aspek perilaku dalam ruang lingkup belajar
mengajar. Secara psikologis ,manusia adalah makhluk individual namun juga
sebagai makhluk sosial dengan kata lain manusia sebagai makhluk yang unik. Maka
dari itu kajian teori dalam psikologi dalam teknologi pendidikan seharusnya
memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu baik ditinjau dari
segi tingkat kecerdasan ,kemampuan ,sikap ,motivasi ,perasaan ,serta
karakteristik-karakteristik individu lainnya.
Tiga dalil utama yang diajukan oleh Thorndike tentang teori perkembangannya
:
a.
Dalil
latihan dan ulangan : makin sering diulang respons yang berasal dari stimulus
tertentu ,makin besar kemungkinan ditanamkan.
b.
Dalil
akibat : menyatakan prinsip hubungan senang tidak senang ,respons akan
diperkuat bilamana diikuti oleh rasa senang ,dan akan diperlemah bila diikuti
rasa tidak senang.
c.
Dalil
kesiapan : karena perkembangan sistem syaraf maka unit perilaku tertentu akan
lebih mudah dilakukan ,dibandingkan dengan unit perilaku yang lain.
Selanjutnya menurut Saettler konstribusi Thorndike dalam teknologi
pembelajaran adalah dengan rumusannya tentang prinsip-prinsip : 1. Aktivitas
diri ,2. Minat/motivasi ,3. Kesiapan mental ,4. Individualisasi ,5.
Sosialisasi.
Menurut Snelbecker dalam Miarso perkembangan beberapa posisi
psikologi terhadap pendidikan yang lebih sistematis dan ilmiah diberi nama
“teori pembelajaran”. Dapat diambil kesimpulan bahwa teknologi pembelajaran
merupakan pendekatan sistematis dan ilmiah dari psikologi terhadap masalah
pendidikan. Selanjutnya ,Snelbecker mengemukakan kegunaan teori atau teknologi
:
a)
Dapat
mengusahakan perbaikan praktik pendidikan seperti yang berlangsung
b)
Mampu
memprediksi efektif tidaknya suatu inovasi ,dan karena itu memberikan bahan
pertimbangan kepada para pengelola pendidikan untuk menentukan kebijakan
c)
Mengarahkan
penelitian untuk masa-masa mendatang secara lebih sistematis.
Berikut adalah teori-teori belajar :
1.
Behaviorisme (Tingkah laku/perilaku)
Behaviorisme didasarkan pada perubahan tingkah laku yang dapat
diamati. Manusia adalah organisme yang pasif ,yang sepenuhnya dipengaruhi oleh
stimulus-stimulus dari lingkungan.
Dalam aliran ini tingkah laku dalam belajar akan berubah kalau ada
stimulus dan respon. Stimulus dapat berupa perilaku yang diberikan pada siswa
,sedangkan respons berupa perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa.
Menurut Baharudin dan Wahyuni bahwa aliran behavioristik memandang belajar
sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus dan respons.
2.
Kognitivisme (Akal Pikiran/Otak)
Dasar pemikiran
dari teori pendidikan kognitivisme adalah dasarnya nasional. Teori ini memiliki
asumsi filosofis yaitu (pengetahuan seseorang diperoleh berdasarkan pemikiran).
Menururt aliran ini ,belajar disebabkan oleh kemampuan kita dalam menafsirkan
peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam lingkungan. Teori kognitivisme
berusaha menjelaskan dalam belajar bagaimana orang-orang berpikir. Di dalam
aliran kognitivisme lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar
itu sendiri ,karena menurut teori ini bahwa belajar melibatkan proses berpikir
yang kompleks. Jadi ,menurut teori kognitivisme pendidikan dihasilkan dari
proses berpikir.
3.
Konstruktivisme
Menurut teori konstruktivisme yang menjadi dasar bahwa siswa
memperoleh pengetahuan adalah karena keaktifan siswa itu sendiri. Konsep
pembelajaran menurut teori ini adalah suatu proses pembelajaran yang
mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru dan
pengetahuan baru berdasarkan data. Oleh karena itu ,proses pembelajaran harus
dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong siswa
mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna. Agar
siswa memiliki kebiasaan berpikir maka dibutuhkan kebebasan dan sikap belajar.
Hal terpenting dalm pembelajaran adalah siswa perlu menguasai
bagaimana caranya belajar. Dengan itu ia bisa menjadi pembelajar mandiri dan
menemukan sendiri pengetahuan-pengetahuan yang ia butuhkan dalam kehidupan.
4.
Humanistik (Bakat)
Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk memanusiakan manusia.
Oleh karena itu ,proses belajar dapat dianggap berhasil apabila si pembelajar
telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain ,si
pembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu
mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Tujuan utama para pendidik
adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing
individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan
membantu dalam mewujudkan potensia-potensi yang ada dalam diri mereka.
Menurut aliran humanistik para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan
yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia
mempunyai keinginan alami untuk berkembang untuk menjadi lebih baik dan
belajar. Pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan
positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencaridan
menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal
ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk mengembangkan diri
yang ditujukan untuk memperkaya diri ,menikmati keberadaan hidup dan juga
masyarakat.
Keterampilan atau kemampuan membangun diri secara positif menjadi
sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan
akademik. Dalam teori humanistik belajar dianggap berhasil apabila pembelajar
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.[6]
BAB III
PENUTUP
Teknologi pendidikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan
pendidikan dan pengajaran tidak bisa melepaskan diri dari kaidah dan
hukum-hukum tentang terjadinya perubahan tingkah laku individu (teori belajar).
Teknologi pendidikan diciptakan dan diusahakan berdasarkan
teori-teori belajar. Oleh sebab itu ,teori pengajaran ,termasuk teknologi
pengajaran ,bersumber dari teori belajar. Teori pengajaran berusaha mencari
jawaban atas bagaimana membantu siswa agar siswa berubah tingkah lakunya
,sedangkan teori belajar berusaha mencari jawaban atas mengapa terjadi
perubahan tingkah laku individu.
[1] Nana Sudjana,Teknologi
Pengajaran,(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007)24-25
[2] Harjadi,Teknologi
Pendidikan,(Yogyakarta:STAIN Ponorogo press,2011)39
[3] Nana Sudjana,Teknologi
Pengajaran,(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007)26
[4] Harjadi,Teknologi
Pendidikan,(Yogyakarta:STAIN Ponorogo press,2011)40-46
[5] Nana Sudjana,Teknologi
Pengajaran,(Bandung:Sinar Baru Algensindo,2007)26-36
[6] Harjadi,Teknologi
Pendidikan,(Yogyakarta:STAIN Ponorogo press,2011)36-40
YouTube - Videodl.cc
BalasHapusYouTube. YouTube. youtube to mp3 Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo. Vimeo.